Angka Obesitas Tinggi, PERKI Ajak Masyarakat Kurangi Gula Dan Garam

By | September 30, 2016

Di antara berbagai faktor risiko penyakit jantung, obesitas merupakan salah satu keadaan yang perlu diwaspadai oleh masyarakat.

Menurut Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, angka prevalensi obesitas di Indonesia adalah sebesar 32,9% untuk wanita dan 19,7% untuk pria. Terjadi peningkatan sebesar 17,5% untuk wanita dan 11,9% untuk pria dibandingkan data pada tahun 2010.

Ketua Perhimpunan Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Ismoyo Sunu dalam konferensi pers memperingati Hari Jantung Sedunia hari ini, Kamis (29/9), mengatakan obesitas dan hipertensi menjadi penyebab meningkatkan risiko penyakit jantung. Penyakit tersebut juga bisa dicegah dengan membatasi minuman berkadar gula tinggi serta membatasi asupan garam berlebih.

“Masyarakat diharapkan turut berpartisipasi dalam mendukung peringatan Hari Jantung Sedunia yakni, dengan cara mengenali faktor risiko penyakit jantung dengan mengontrol tekanan darah serta berat badan. Adanya obesitas dan hipertensi yang akan meningkatkan risiko terkena penyakit jantung,” ucapnya.

“Masyarakat dianjurkan untuk mengonsumsi makanan gizi seimbang dengan cara memperbanyak konsumsi produk susu rendah lemak, ikan laut yang kaya asam lemak omega-3, buah dan sayur, serta membatasi konsumsi daging merah, minuman kemasan dengan kadar gula tinggi serta asupan garam berlebih,” lanjutnya

Obesitas merupakan sebuah kondisi kronis di mana terjadinya penumpukan lemak di dalam tubuh sehingga melebihi batas yang baik untuk kesehatan.

Ario Soeryo Kuncoro, Ketua Panitia Hari Jantung Sedunia 2016 PERKI dan Wakil Sekjen I Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia mengatakan obesitas dapat mempengaruhi struktur kardiovaskular dan fungsinya, sehingga dapat menyebabkan penyakit kardiovaskular seperti gagal jantung, penyakit jantung koroner, kematian mendadak dan fibrilasi atrial.

“Obesitas dapat mempengaruhi struktur kardiovaskular dan fungsinya, sehingga dapat menyebabkan penyakit kardiovaskular seperti gagal jantung, penyakit jantung koroner, kematian mendadak dan fibrilasi atrial dan tentunya dihubungkan pula dengan menurunnya angka harapan hidup,” ungkap Ario.

“Pada mereka yang mengalami obesitas, terjadi perubahan struktural yakni dinding otot jantung yang menebal sehingga mengakibatkan perubahan pada fungsi jantung dalam melakukan pompa jantung atau pun dalam hal pengisian jantungnya,” lanjutnya.

Selain itu juga, penyakit jantung dan pembuluh darah masih merupakan pembunuh nomor satu di dunia di mana setiap tahunnya bertanggung jawab terhadap 17,5 juta kematian. Diperkirakan pada 2030 jumlah kasus akan meningkat sampai 23 juta kematian per tahunnya.
Sumber:

http://www.merdeka.com/sehat/angka-obesitas-tinggi-perki-ajak-masyarakat-kurangi-gula-dan-garam.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *